Tampilkan postingan dengan label Facebook. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Facebook. Tampilkan semua postingan

Facebook, Google, dan Twitter Akan Dipaksa Bayar Pajak di Indonesia

05.08 Add Comment
Perusahaan teknologi asal AS, seperti Facebook, Twitter, dan Google sudah menempatkan kantor perwakilannya di Indonesia. Meski demikian, ketiganya ternyata belum memiliki kantor tetap dan membayar pajak karena belum menjadi Badan Usaha Tetap.

Untuk itu, pemerintah akan memaksa ketiga perusahaan tersebut mengurus pembentukan Badan Usaha Tetap (BUT). Ini diungkap Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara di kantor staf kepresidenan, Rabu (24/2016).

Seperti dilansir KompasTekno dari Kontan, pemaksaan tersebut direncanakan akan tertuang dalam sebuah peraturan dan mulai diterapkan pada Maret mendatang.

Peraturan ini tidak hanya akan memaksa Facebook, Google, dan Twitter tetapi juga semua perusahaan asing yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia.

Menkominfo mengatakan, desakan untuk menjadi BUT tersebut bertujuan untuk melindungi konsumen di Indonesia dan alasan pajak.

"Sekarang kita punya Facebook, Twitter, datanya dipakai apa? Kalau ada penyalahgunaan, mau komplain ke mana?" kata Rudiantara.

Soal pajak, Rudiantara menghitung, pajak di dunia digital berpotensi besar. 

Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan pemasangan iklan yang dilakukan, baik oleh individu maupun perusahaan Indonesia, di dunia digital pada tahun 2015 yang mencapai 850 juta dollar AS.

"Itu 70 persen dikuasai oleh dua perusahaan digital dunia itu. Mereka bayar pajaknya di luar, tidak fair, dong," katanya.

Rudiantara menambahkan, walau kebijakan ini mungkin memberatkan, pemerintah berharap, perusahaan digital bisa mematuhi aturan di Indonesia. "Karena negara lain juga melakukan aturan ini," katanya.

Syarat untuk menjadi BUT, perusahaan asing harus memiliki kantor dan karyawan di Indonesia. 

Selain itu, mereka harus tunduk kepada undang-undang termasuk undang-undang perpajakan. Artinya, setiap transaksi yang dilakukan di Indonesia akan dikenai PPh (pajak penghasilan) badan dan PPN (pajak pertambahan nilai) untuk setiap transaksi yang dilakukan di Indonesia.

Sumber : Kompas.com

Facebook, YouTube, dan Twitter Bisa Diblokir di Indonesia

05.06 Add Comment

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara memastikan akan bersikap tegas terhadap seluruh perusahaan over the top (OTT), seperti Google, Facebook, dan Twitter di Indonesia. 

Ketiga perusahaan teknologi asal AS tersebut diminta menjadi Badan Usaha Tetap (BUT) di Indonesia. 

Jika menolak, situs video YouTube milik Google, Instagram dan WhatsApp milik Facebook, dan layanan microblogging Twitter bisa saja diblokir oleh pemerintah.

"Kalau mereka nggak membuat BUT, nah kita mesti ada pinalti. Itu nanti akan proses konsultasi publik dulu (untuk aturannya). Kalau soal blokir ya bisa saja diblokir," kata Rudiantara saat ditemui KompasTeknodi kantornya, Gedung Kemenkominfo, Kamis (25/2/2016).

"Jangan berpikiran blokir ini masalah kontennya. Kalaupun nanti diblok, bukan soal itu. Ini masalah keberadaan mereka, presensi mereka sebagai BUT," imbuhnya.

Kewajiban BUT berarti OTT mesti memiliki izin legalitas untuk beroperasi di Indonesia. Dengan menjadi BUT, ketiga perusahaan juga harus tunduk kepada Undang-undang yang berlaku di Indonesia, seperti harus memiliki kantor dan ada karyawannya di Indonesia.

Selain itu, sebuah BUT juga wajib tunduk terhadap Undang-undang Perpajakan. Artinya, setiap transaksi yang dilakukan oleh perusahaan asing di Indonesia akan dikenai pajak.

Rudiantara mengatakan mekanismenya tak harus dengan membuat kantor sendiri, tapi bisa saja dengan cara joint venture dengan perusahaan lokal atau melalui kerja sama dengan operator telekomunikasi.

Dengan adanya BUT segala pemasukan yang diperoleh dari operasional mereka di Indonesia itu akan jadi objek pajak. Pemerintah juga bisa lebih leluasa mengatur atau melindungi pengguna layanan di Indonesia.

Saat ini aturan terkait OTT tersebut masih digodok. Pemerintah berencana untuk mengeluarkan aturan tersebut bulan depan.

"Perkiraannya kita akan keluarkan aturan akhir Maret. Tapi akan ada masa transisi. Kan kita gak bisa juga begitu keluar langsung minta besok jadi," 

Saat ini beberapa OTT, seperti Google atau Twitter baru memiliki representative office saja di Indonesia. Selain itu ada juga OTT yang sudah beroperasi di Tanah Air namun transaksi masih dicatat di Singapura.

Sumber : Kompas.com

3 Alasan "Jujur" Anak Muda Tinggalkan Facebook dan Twitter

05.03 Add Comment

Sebelas juta remaja angkat kaki dari Facebook pada 2011 silam. Sejak itu Facebook makin didominasi kalangan dewasa hingga tua, yakni mereka yang berumur 30 tahun ke atas. 

Sementara anak muda - 18 hingga 29 tahun - punya Instagram sebagai rumah baru. Mereka bisa berbagi konten visual tanpa embel-embel teks panjang lebar. Tak banyak ruang membahas kisruh politik, berkampanye, atau menuangkan pikiran-pikiran serius nan ruwet. 

Instagram seakan lebih merestui penggunanya memamerkan foto atau video perjalanan, hobi, dan keseharian lainnya yang lekat dengan kreativitas dan jiwa muda.

Tapi lagi-lagi ada yang mengusik "kemudaan" Instagram. Belakangan platform tersebut mulai disesaki iklan. Kalangan orang tua pun pelan-pelan turut mengeksiskan diri.

Meski demikian, toh Instagram tak serta-merta ditinggalkan (untuk tak menyebut pelan-pelan ditinggalkan). Masih banyak anak muda yang betah menjajalnya. Tak jarang pula yang kemudian mengembangkan bisnis dengan menggunakan strategi pemasaran via Instagram. 

Alarm tanda bahaya lebih tepat ditujukan pada Twitter. Secara umum, platform tersebut memang menunjukkan penurunan penetrasi. 

Indonesia yang basis pengguna Twitter-nya terhitung melimpah pun terkena dampak. Dalam dua tahun terakhir pengguna Twitter di Indonesia menurun 10 persen hingga tinggal sepertiga dari total pengguna internet.

Anak muda lebih memilih Snapchat

Menurut analisis Profesor Felicity Duncan dari Cabrini College, AS, anak muda cenderung aktif di media sosial yang mengedepankan penyebaran konten secara intim - Facebook Messenger atau Snapchat -, ketimbang penyebaran konten secara massal - Facebook dan Twitter -. 

Hal itu pertama kali ia sadari saat menganalisis kebiasaan mahasiswa didikannya. Ketika menunggu kelas, kata Duncan, para mahasiswa menjajal smartphone bukan untuk mengecek Facebook, Twitter, atau Instagram. 

"Mereka melihat berita terbaru dari sahabat-sahabat mereka lewat Snapchat Stories, chatting di Messenger, atau mengecek group chatting di layanan lainnya," ia menuliskan di Quartz, sebagaimana dihimpun KompasTekno, Senin (15/2/2016). 

Jika para mahasiswa punya waktu lebih senggang, ia melanjutkan, barulah mereka mengecek Instagram untuk tahu postingan terbaru dari brand-brand yang mereka ikuti. 

Intinya, secara garis besar, kebutuhan media sosial bagi remaja telah bergeser. Opsi mereka lebih ke intimasi, bukan penyiaran massal.

Menurut laporan Pew Research pada Agustus 2015, 49 persen pengguna smartphone berusia 18 hingga 29 tahun aktif menggunakan aplikasi chatting seperti WhatsApp, iMessage, Messenger, atau Line. 

Sementara itu, 41 persen remaja menggunakan aplikasi yang memiliki kemampuan menghapus konten otomatis, seperti Snapchat. Hanya 22 persen yang menggunakan LinkedIn dan 32 persen menggunakan Instagram. 

Sebenarnya, presentasi paling banyak masih diraup Facebook. Sebanyak 82 persen remaja mengaku memiliki Facebook. Tapi, "memiliki" tak berbanding lurus dengan "aktif menggunakan". 

Dari 82 persen, 70 persen mengatakan tak menjajal Facebook lewat aplikasi mobile. Pengecekan aplikasi itu dilakukan sesekali via laptop, jika benar-benar sedang ingin.

Kenapa kebutuhan media sosial anak muda bergeser?

Berdasarkan diskusi dan pengamatan Duncan terhadap 80 mahasiswa AS, ada tiga alasan "jujur" mereka meninggalkan Facebook dan Twitter. 

Pertama, platform tersebut dianggap bernuansa tua. Menurut Pew Research, 48 persen pengguna internet berusia di atas 65 tahun menggunakan Facebook. 

Akibatnya, anak muda merasa canggung ketika orang tua, bibi, paman, atau bahkan nenek mereka meminta berteman di Facebook. Ada perasaan tak bebas berekspresi, malu, dan kikuk. 

Kedua, konten di Facebook dan Twitter akan tetap ada dalam waktu lama, bahkan bisa abadi. Ingatkah bagaimana memalukannya postingan Anda lima tahun atau tujuh tahun lalu?

Ada foto-foto yang dulunya Anda anggap keren, lalu sekarang Anda berbalik mengutuk foto-foto itu. Sayangnya, terlalu banyak foto yang telah di-tag ke akun Anda, pun foto-foto yang pernah secara sadar Anda bagi. Perlu waktu untuk menghapusnya satu-satu atau menyembunyikannya. 

Sementara di Snapchat, anak muda sengaja membagi hal-hal konyol untuk jadi bahan guyonan. Toh dalam 24 jam konten itu akan hilang otomatis. 

Ketiga, perusahaan cenderung mengecek media sosial sebelum menerima lamaran kerja seseorang. Atas dasar itulah para remaja tak menghapus akun Facebook dan Twitter mereka.

Lebih tepatnya, media sosial tersebut hanya dijadikan topeng pencitraan: tak perlu sering-sering diperbarui dan hanya digunakan membagi hal-hal yang sifatnya tak personal. 

"Mereka sangat hati-hati mengkurasi konten pada profil publik Facebook atau LinkedIn," kata Duncan.

Ekspresi yang sesungguhnya tak ditunjukkan lagi lewat Facebook dan Twitter. Hakikat media sosial yang sebenarnya disalurkan anak muda lewat Snapchat atau layanan-layanan sejenis. 

Fenomena pergeseran ini punya implikasi beragam. Paling signifikan bagi pengiklan dan orang tua. 

Pengiklan yang berencana menyasar anak muda, tentu harus memiliki strategi khusus untuk menjangkau mereka. Jika tumpuan harapan dialamatkan pada Facebook atau Twitter, strategi itu harus buru-buru dibenahi.

Bagi orang tua yang ingin mengontrol aktivitas maya anaknya, juga tak bisa lagi mengandalkan Facebook. Sebab platform itu hanya "tameng" bukan "isi" diri anak sesungguhnya.

Sumber : Kompas.com

Anak Muda Tinggalkan Facebook dan Twitter, Kenapa?

05.01 Add Comment
Sebelas juta remaja angkat kaki dari Facebook pada 2011 silam. Sejak itu Facebook makin didominasi kalangan dewasa hingga tua, yakni mereka yang berumur 30 tahun ke atas. 

Sementara anak muda - 18 hingga 29 tahun - punya Instagram sebagai rumah baru. Mereka bisa berbagi konten visual tanpa embel-embel teks panjang lebar. Tak banyak ruang membahas kisruh politik, berkampanye, atau menuangkan pikiran-pikiran serius nan ruwet. 

Instagram seakan lebih merestui penggunanya memamerkan foto atau video perjalanan, hobi, dan keseharian lainnya yang lekat dengan kreativitas dan jiwa muda.

Tapi lagi-lagi ada yang mengusik "kemudaan" Instagram. Belakangan platform tersebut mulai disesaki iklan. Kalangan orang tua pun pelan-pelan turut mengeksiskan diri.

Meski demikian, toh Instagram tak serta-merta ditinggalkan (untuk tak menyebut pelan-pelan ditinggalkan). Masih banyak anak muda yang betah menjajalnya. Tak jarang pula yang kemudian mengembangkan bisnis dengan menggunakan strategi pemasaran via Instagram. 

Alarm tanda bahaya lebih tepat ditujukan pada Twitter. Secara umum, platform tersebut memang menunjukkan penurunan penetrasi. 

Indonesia yang basis pengguna Twitter-nya terhitung melimpah pun terkena dampak. Dalam dua tahun terakhir pengguna Twitter di Indonesia menurun 10 persen hingga tinggal sepertiga dari total pengguna internet.

Anak muda lebih memilih Snapchat

Menurut analisis Profesor Felicity Duncan dari Cabrini College, AS, anak muda cenderung aktif di media sosial yang mengedepankan penyebaran konten secara intim - Facebook Messenger atau Snapchat -, ketimbang penyebaran konten secara massal - Facebook dan Twitter -. 

Hal itu pertama kali ia sadari saat menganalisis kebiasaan mahasiswa didikannya. Ketika menunggu kelas, kata Duncan, para mahasiswa menjajal smartphone bukan untuk mengecek Facebook, Twitter, atau Instagram. 

"Mereka melihat berita terbaru dari sahabat-sahabat mereka lewat Snapchat Stories, chatting di Messenger, atau mengecek group chatting di layanan lainnya," ia menuliskan di Quartz, sebagaimana dihimpun KompasTekno, Senin (15/2/2016). 

Jika para mahasiswa punya waktu lebih senggang, ia melanjutkan, barulah mereka mengecek Instagram untuk tahu postingan terbaru dari brand-brand yang mereka ikuti. 

Intinya, secara garis besar, kebutuhan media sosial bagi remaja telah bergeser. Opsi mereka lebih ke intimasi, bukan penyiaran massal.

Menurut laporan Pew Research pada Agustus 2015, 49 persen pengguna smartphone berusia 18 hingga 29 tahun aktif menggunakan aplikasi chatting seperti WhatsApp, iMessage, Messenger, atau Line. 

Sementara itu, 41 persen remaja menggunakan aplikasi yang memiliki kemampuan menghapus konten otomatis, seperti Snapchat. Hanya 22 persen yang menggunakan LinkedIn dan 32 persen menggunakan Instagram. 

Sebenarnya, presentasi paling banyak masih diraup Facebook. Sebanyak 82 persen remaja mengaku memiliki Facebook. Tapi, "memiliki" tak berbanding lurus dengan "aktif menggunakan". 

Dari 82 persen, 70 persen mengatakan tak menjajal Facebook lewat aplikasi mobile. Pengecekan aplikasi itu dilakukan sesekali via laptop, jika benar-benar sedang ingin.

Kenapa kebutuhan media sosial anak muda bergeser?

Berdasarkan diskusi dan pengamatan Duncan terhadap 80 mahasiswa AS, ada tiga alasan utama mereka meninggalkan Facebook dan Twitter. Pertama, platform tersebut dianggap bernuansa tua. Menurut Pew Research, 48 persen pengguna internet berusia di atas 65 tahun menggunakan Facebook. 

Akibatnya, anak muda merasa canggung ketika orang tua, bibi, paman, atau bahkan nenek mereka meminta berteman di Facebook. Ada perasaan tak bebas berekspresi, malu, dan kikuk. 

Kedua, konten di Facebook dan Twitter akan tetap ada dalam waktu lama, bahkan bisa abadi. Ingatkah bagaimana memalukannya postingan Anda lima tahun atau tujuh tahun lalu?

Ada foto-foto yang dulunya Anda anggap keren, lalu sekarang Anda berbalik mengutuk foto-foto itu. Sayangnya, terlalu banyak foto yang telah di-tag ke akun Anda, pun foto-foto yang pernah secara sadar Anda bagi. Perlu waktu untuk menghapusnya satu-satu atau menyembunyikannya. 

Sementara di Snapchat, anak muda sengaja membagi hal-hal konyol untuk jadi bahan guyonan. Toh dalam 24 jam konten itu akan hilang otomatis. 

Ketiga, perusahaan cenderung mengecek media sosial sebelum menerima lamaran kerja seseorang. Atas dasar itulah para remaja tak menghapus akun Facebook dan Twitter mereka.

Lebih tepatnya, media sosial tersebut hanya dijadikan topeng pencitraan: tak perlu sering-sering diperbarui dan hanya digunakan membagi hal-hal yang sifatnya tak personal. 

"Mereka sangat hati-hati mengkurasi konten pada profil publik Facebook atau LinkedIn," kata Duncan.

Ekspresi yang sesungguhnya tak ditunjukkan lagi lewat Facebook dan Twitter. Hakikat media sosial yang sebenarnya disalurkan anak muda lewat Snapchat atau layanan-layanan sejenis. 

Fenomena pergeseran ini punya implikasi beragam. Paling signifikan bagi pengiklan dan orang tua. 

Pengiklan yang berencana menyasar anak muda, tentu harus memiliki strategi khusus untuk menjangkau mereka. Jika tumpuan harapan dialamatkan pada Facebook atau Twitter, strategi itu harus buru-buru dibenahi.

Bagi orang tua yang ingin mengontrol aktivitas maya anaknya, juga tak bisa lagi mengandalkan Facebook. Sebab platform itu hanya "tameng" bukan "isi" diri anak sesungguhnya.

Sumber : Kompas.com

Instagram Tumbuh Pesat, Facebook Masih Berkuasa

04.56 Add Comment
Layanan Facebook dan Instagram kini dikelola oleh satu perusahaan. Namun, keduanya tetap bersaing dalam hal popularitas untuk menambah jumlah pengguna dan meningkatkan bisnis.

Facebook masih menjadi jejaring sosial terbesar di dunia, dengan 1,19 miliar pengguna, sementara Instagram 150 juta pengguna pada kuartal ketiga 2013. Tetapi, pertumbuhan jumlah pengguna baru Facebook ternyata tidak sebesar Instagram.

Dalam survei yang dilakukan GlobalWeb Index pada kuartal empat 2013, dan dipublikasikan pada Januari 2014 tersebut, tercatat Facebook hanya mengalami pertumbuhan pengguna aktif sebesar 3 persen saja. Sementara saudara tirinya, Instagram, mencapai 23 persen.

Bahkan, saking pesatnya jumlah pengguna baru Instagram, sampai-sampai mengalahkan gabungan pengguna baru Facebook, Twitter, dan Pinterest.

Namun jika diranking berdasar jejaring sosialnya, Facebook tetap berada di peringkat atas dari sisi kepemilikan akun (83 persen), penggunaan aktif (49 persen), dan frekuensi kunjungan (56 persen pengguna Facebook masuk ke layanan ini lebih dari sekali dalam sehari).

Facebook kini lebih fokus dalam bisnis perangkat mobile. Mereka terus menyempurnakan layanan di perangkat mobile, begitu juga Instagram.

Mobile

Hal serupa juga dilakukan jejaring sosial Twitter. Selama 2013, perusahaan yang berbasis di San Francisco, California, AS, ini, terus melakukan perubahan dan perbaikan, seperti tampilan halaman utama dan penambahan fitur berkirim pesan secara personal.

Lembaga riset GlobalWeb Index merilis data bahwa pada kuartal empat 2013, akses sosial media dari perangkat mobile telah melampaui PC. Sebanyak 66 persen pengguna mengakses jejaring sosial dari perangkat mobile.

GlobalWeb Index juga memprediksi jejaring sosial baru yang akan populer di masa depan. Mereka adalah YouTube dan Tumblr.

Di masa depan, makin banyak pengguna yang mengakses jejaring sosial dengan platform yang berbeda-beda pula, sehingga interaksi sosial sehari-hari akan lebih bervariasi. 

Sumber : Kompas.com